Jumat, 15 April 2011

Desain Rumah Yang Unik

strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses
strange houses


Kota Di Tengah Lautan



Kota ditengah Laut ini disebut juga Oil stone terbentuk di awal tahun 1940-1950an, karena efek perang dunia II yang saat itu di perlukan sumber energi yg begitu banyak (minyak).

sebelumnya rusia sudah mempunyai sumber minyak didaratan, namun karena perang dunia ke II, lama2 sumber minyak tersebut habis, hingga akhirnya timbul ide untuk membangun oil stone city ini yang letaknya di tengah2 laut lepas,untuk memaksimalisasikan proyek pengambilan minyak di laut lepas itu sendiri.

Panjang jalanan kotanya sendiri bila di gabungkan 350 km (200 mil), disini terdapat juga sekolah, air mancur, gedung2, bahkan lapangan bola berumput untuk anak-abak yang ingin bermain bola.





kota ini bahkan di tinggali oleh 2.000 jiwa, dan jarak kota ini ke daratan sejauh 42km gan, dan masyarakat kota ini terlihat bahagia hidup di kota yg mengapung di tengah-tengah laut ini.

Sumber: http://dunia-uniks.blogspot.com/2011/03/kota-di-tengah-lautan.html#ixzz1JbCuY7qZ

10 Hotel Paling Futuristik

10. The Apeiron island hotel

Designer: Sybarite
Status: Concept
Estimated project cost: $500million

9. Foldable hotel pods

Designer: m3 Architects, London
Estimated project cost: $72 to $104 million

8. The hotel Burj al-Arab

Location: Dubai, United Arab Emirates
Designer: Tom Wright (WS Atkins PLC), Khuan Chew
Status: Complete
Estimated project cost: $650 million
Cost per person: $1,000 to over $28,000 per night, $75 to have a glimpse from inside

7. Waterworld

6. The Poseidon Undersea Resort

Location: Fiji, The Poseidon Mystery Island
Designer: Bruce Jones
Status: Under construction, will be completed by September 2008
Estimated project cost: $105 million
Cost per person: $15,000 per week

5. The Hydropolis

Location: Dubai
Designer: Joachim Hauser, Crescent Hydropolis Resorts
Estimated project cost: $500-million

4. The Lunatic Hotel

Designer: Hans-Jurgen Rombaut, Wimberly Allison Tong & Goo (WATG)
Status: Blueprint ready, will take real shape by 2050

3. Aeroscraft

Designer: Igor Pasternak (Worldwide Aeros Corporation), Wimberly Allison Tong & Goo (WATG)
Status: Prototype under development

2. Galactic Suite

Designer: Xavier Claramunt of ADD+ARQUITECTURA
Status: On hold, prototype is ready

1. Commercial Space Station Skywalker

Designer: Bigelow Aerospace, Las Vegas
Location: 515-kms above Earth
Status: The human space complex will be accessible by 2015
Estimated project cost: $500 million
Cost per person: $1 million a night


Kota Unik Yang Terbuat Dari Container

Sebenarnya mungkin bukan hal yang baru lagi kalau container dikreasikan menjadi tempat tinggal. Di Indonesia pun, meski belum banyak dan hanya dipesan pengusaha-pengusaha tertentu, container sudah dijadikan macam-macam kegunaan, di antaranya kamar-kamar hotel.

Nah, yang di Mexico ini cukup menarik di tengok. Kota container ini berada di Cholula, luar kota Mexico, dibangun oleh pengembang yang kreatif. Seperti kota-kota kecil umumnya, maka kota container ini terbilang cukup lengkap. Di sana ada pemukiman penduduk, rumah makan, bar, pertokoan, tempat-tempat hiburan, dll. Semuanya terbuat dari container.

Pengembang menggunakan lahan 4500 sq meter untuk membangunnya. Kontainer-container bekas itu, kemudian dicat dengan warna-warni cerah, ditata sebagaian untuk rumah tinggal, sebagian untuk layanan public.















Senin, 28 Maret 2011

Hubungan Kebudayaan, Manusia dan Arsitektur

1. Arsitektur sebagai cerminan budaya manusia

Arsitektur sebagai budaya material tidak hanya sekedar menyusun elemen-elemen material bangunan menjadi bangunan secara utuh, akan tetapi arsitektur juga berperan pada pembentukan ruang-ruang sosial dan simbolik, sebuah “ruang” menjadi cerminan dari perancang dan masyarakat yang tinggal di dalamnya.

Sebagian besar studi arsitektur hanya melihat pada bentukan arsitektur yang monumental dan formal (istana, amphiteater, dst), belum banyak yang juga mempelajari ”arsitektur rakyat”. Diantara arsitek, Bernard Rudofsky (1964) adalah seorang yang dikenal sebagai promotor dari apresiasi terhadap estetika yang asli, original, bahkan juga organis, beliau menyebutnya sebagai ”Architecture Without Architect”. Sehingga sejak 20 tahun lalu studi tentang indigenous architecture (baca= arsitektur tradisional, arsitektur rakyat, arsitektur asli masyarakat) mulai dikembangkan bekerjasama dengan para antropolog.

Studi ini tidak hanya akan terbatas pada beberapa daerah yang mempunyai budaya asli saja, akan tetapi seluruh dunia dan pada seluruh kalangan. Sebut saja Le Corbusier, seorang pelopor arsitektur modern, yang menyatakan bahwa A house is a Machine to live in, seorang yang mendobrak seluruh dunia dengan jargon fungsionalismenya (segala sesuatu akan tampak indah jika berfungsi dengan baik). Bagaimanapun ekspansifnya Le Corbu akan tetapi semuanya tidak lepas dari perilaku dan sistem sosial yang dianutnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa arsitektur tidak pernah netral, akan tetapi akan selalu berhubungan dengan pengguna, budaya, serta konstruksi sosial yang ada dalam suatu masyarakat.

2. Arsitektur dan perubahan kebudayaan manusia

Sebagaimana aspek budaya yang lain, arsitektur senantiasa berubah dan mengalami evolusi sepanjang masa. Namun demikian, terjadinya perubahan tidaklah merata pada setiap kelompok manusia dan masyarakat/bangsa.

Dikotomi kebudayaan manusia dalam Arsitektur

We may say that monuments-buildings of the grand design tradition-are built to impress either the populace with the power of the patron, or the peer group of designers and cognoscenti with the cleverness of the designer and the good taste of the patron. The folk tradition, on the other hand, is the direct and unself-conscious translation into physical form of a culture, its needs and values –as well as the desires, dreams, and passions of the people. It is the world view writ small, the “ideal” environment of a people expressed in buildings and settlements, with no designer, artist, or architect with an axe to grind (although to what extent the designer is really a form giver is a moot point). The folk tradition is much more closely related to the culture of the majority and life as it is really lived than is the grand design tradition, which represents the culture of the elite. The folk tradition also represents the bulk of the built environment. (Amos Rapoport, 1969)


Arsitektur sebagai salah satu proses dan produk budaya material, ternyata juga mengalami dikotomi sebagaimana diungkapkan oleh Amos Rapoport diatas. Budaya tinggi dalam arsitektur diwakili oleh bangunan-bangunan, seperti monumen-sebagai bangunan tradisi desain yang agung-yang merupakan representasi dari kekuasaan dan kejeniusan individual sang arsitek. Sebaliknya, budaya masyarakat merupakan ekspresi yang berhubungan dengan budaya mayoritas, tanpa adanya seorang desainer, seniman atau arsitek. Akan tetapi ”hidup” dalam masyarakat lebih dari tradisi desain yang agung yang merepresentasi budaya para elite. Budaya massa dalam arsitektur ini seringkali didefinisikan antara lain sebagai arsitektur primitif, arsitektur vernakular, architecture without architect, arsitektur tradisional, regional culture ataupun juga arsitektur pinggiran. Sedangkan budaya tinggi diwakili oleh arsitektur non-tradisional, arsitektur world culture, universal civilization.

Mainstream Akademik; Budaya Tinggi Vs Budaya Massa dalam Arsitektur

Pada mainstream akademik, dikotomi budaya dalam arsitektur ini tampak terlihat lebih jelas. Dikotomi yang meletakkan budaya massa dalam posisi marginal sampai hari ini belum juga bergeser. Hal semacam ini tidak akan terjadi jika kita mendudukkan klasifikasi budaya ini dalam porsi yang proporsional. Beberapa dikotomi dua kutub budaya ini akan lebih jelas, jika kita jabarkan satu persatu sebagai berikut:

Arsitektur vernacular dan arsitektur non-vernacular

Arsitektur vernakular sebagai representasi budaya massa seringkali disamakan dengan ”architecture without architect” yang memberi kesan bahwa arsitektur vernakular bukanlah porsi kerja seorang arsitek. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi porsi pembahasan arsitektur vernakular dalam mainstream akademik, terkecuali harus dibahas dalam suatu forum ”tersendiri”. Pun, forum-forum semacam ini belum banyak mampu memberi warna pada kurikulum pendidikan arsitektur S1 di Indonesia. Mata kuliah-mata kuliah teori dan sejarah arsitektur masih terlalu didominasi oleh arsitektur budaya tinggi dengan pengenalan ”monumen-monumen” arsitektur sepanjang sejarah. Bahkan jika kita melihat timeline yang ditawarkan mulai dari arsitektur Yunani, Romawi, hingga Post-modern, sedikit sekali yang membahas tentang arsitektur vernakular ini. Kalaupun ada, masih terbatas pada pengetahuan arsitektur nusantara, itupun didominasi oleh budaya tinggi arsitektur nusantara.

Regional culture dan universal civilization

Universal civilization yang diwakili oleh modernisme dewasa ini menumpukan harapan pada kemampuan nalar-rasional dan kemampuan mesin-teknologis yang acapkali semakin meminggirkan mereka yang tidak berada dalam arus utama ini. Regional culture dipandang sebagai sesuatu “yang lain” dan tidak “universal”. Tidak perlu kita ragukan lagi, modernisme telah menjadi warna dominan produk-produk arsitektur di abad 20-21 ini. Kota-kota besar kita didominasi bangunan-bangunan international style yang menafikan regional culture masing-masing. Dunia akademik pun seakan tidak bergeming dalam hal ini. Mainstream yang terbentuk masih saja mengekor universal civilization yang dianggap sebagai agen pembaharuan yang progresif sementara regional culture bersifat sementara.

Arsitektur tradisional dan arsitektur non-tradisional













Arsitektur tradisional yang merupakan representasi dari tradisi, nilai-nilai yang dianut, kepercayaan dalam masyarakat, dan lain-lain, sampai saat ini masih berada dalam posisi yang terpinggirkan dalam mainstream akademik. Pengetahuan tentang arsitektur tradisional masih terbatas pada produk jadi dan justru kehilangan ruh tradisionalnya sendiri ketika telah menjadi fix dan cenderung statis, bukannya sebagai ”proses hidup”. Arsitektur Jawa, misalnya yang pada perwujudannya didominasi oleh joglo sebagai budaya tinggi (=adiluhung) dan satunya lagi ”bukan joglo” yang diwakili oleh arsitektur kampung (yang sebenarnya memiliki kekayaan dan keragaman arsitektural yang tinggi dan diikuti oleh mayoritas dalam masyarakat) namun tidak banyak dikaji karena dianggap kurang ”bernilai” atau tidak adiluhung.

Sedangkan arsitektur non-tradisional yang didominasi oleh arus modernisme universal/universal civilization masih menjadi mainstream dominan dalam pendidikan S1 Arsitektur. Apalagi dengan bantuan media, baik literatur, media massa, elektronik, internet, dan lain-lain yang memudahkan kita untuk kapan saja melihat dan mengapresiasinya. Sementara media yang membahas arsitektur tradisional (baca=arsitektur nusantara) masih relatif terbatas. Bahkan sangat minim, dan itupun masih membahas arsitektur semacam joglo, tongkonan, dst yang cenderung elitis dan tidak menyentuh mayoritas masyarakat kita.

Kamis, 04 November 2010

The American 370mb


Versi 370Mb
Cramit
http://cramit.in/6ouwz18i5d6s
or
Enterupload
http://www.enterupload.com/biqt319j6txl
or
Mediafire
http://www.mediafire.com/?qh87bdibe1h
http://www.mediafire.com/?293cvu3k8ss
http://www.mediafire.com/?737lc2lz8kikscs
Pass: phimchua.info
OR
VERSI 700MB AVI
http://www.mediafire.com/?37pf1lni7b7m019
http://www.mediafire.com/?xcua07pgpq1eib9
OR
Cranit
http://cramit.in/7puhhm9wvw6w
OR
Enterupload
http://www.enterupload.com/z52cl9qlqjnl
http://www.enterupload.com/e753dj3icmth
OR
http://www.mediafire.com/?jfcb073kn9f0n1k
http://www.mediafire.com/?1117bum738bsona
http://www.mediafire.com/?uaph19k0aanhumu
http://www.mediafire.com/?fci8jm63t5awn58
INFORMASI

Name : The American 2010
Quality : R5
Format : Avi
Size : 700Mb
Source / From

www.en3.co.cc/phimchua.info

The Last Air Bender 525mb



link untuk dowload
Mediafire

http://links.300mbfilms.com/thalbbr/
pass : 300mbfilms.com
INFORMASI
Name : The Last Air Bender : Book 1
Quality : BRrip
Format : Mkv
Size : 525Mb
Source / From
300mbfilms.com